Bantul, 28 April 2026 – Program Studi Animasi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, kembali menghadirkan praktisi industri kreatif dalam perkuliahan Gambar Digital. Pada pertemuan ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan belajar bersama Stormy Elia Fanggidae, S.Sn. dan Alifka Hammam Nugroho, S.Ds. dari Polar Engine Studio Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang menghubungkan materi akademik dengan praktik profesional di industri ilustrasi, concept art, dan produksi aset visual. Melalui kelas praktisi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh materi teknis mengenai proses menggambar digital, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata mengenai dinamika kerja ilustrator di lingkungan studio kreatif.
Dalam sesi pertama, Stormy Elia Fanggidae, S.Sn. membawakan materi mengenai realitas menjadi seorang ilustrator profesional. Stormy merupakan alumnus S-1 Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta angkatan 2009 dan saat ini berperan sebagai Senior Illustrator di Polar Engine. Materi yang disampaikan menyoroti perbedaan antara ekspektasi dan realitas kerja kreatif, terutama ketika hobi menggambar berkembang menjadi profesi yang menuntut kedisiplinan, komunikasi, manajemen waktu, serta kesiapan menghadapi revisi dan umpan balik klien.
Stormy menjelaskan bahwa pekerjaan ilustrator tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggambar. Dalam praktik industri, ilustrator juga dituntut mampu membaca brief, mengelola komunikasi, menerima feedback, menyusun revisi, serta menjaga kualitas karya hingga tahap final. Alur kerja yang dipaparkan meliputi tahap brief, sketch, feedback, revision, color, hingga final artwork. Proses tersebut menunjukkan bahwa karya visual yang matang lahir dari rangkaian keputusan artistik dan komunikasi produksi yang berulang.
Mahasiswa juga diajak memahami tantangan yang umum dihadapi pekerja kreatif, seperti burnout, overwork, tekanan waktu, stres, perbandingan diri melalui media sosial, imposter syndrome, persoalan pricing atau salary, serta perkembangan teknologi AI. Melalui pembahasan ini, mahasiswa diarahkan untuk membangun kesadaran profesional sejak dini, terutama dalam memisahkan karya personal dan pekerjaan klien, mengutamakan kualitas dibanding kuantitas, serta memahami bahwa karya yang belum selesai belum dapat diposisikan sebagai portofolio yang kuat.
Pada sesi kedua, Alifka Hammam Nugroho, S.Ds. membawakan materi mengenai eksplorasi komposisi visual. Alifka merupakan ilustrator Polar Engine yang memiliki latar belakang pendidikan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan pengalaman sebagai graphic designer, freelance illustrator, serta illustrator di industri kreatif. Dalam materinya, Alifka menekankan pentingnya pemahaman komposisi sebagai dasar untuk membangun gambar yang komunikatif, terarah, dan memiliki titik perhatian yang jelas.
Materi komposisi dibahas melalui konsep big, medium, small sebagai strategi pengaturan ukuran dan hierarki bentuk dalam gambar. Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan pada pengelolaan value, warna, vocal point atau focal point, serta lighting. Unsur-unsur tersebut menjadi fondasi penting dalam digital painting karena menentukan keterbacaan visual, kedalaman ruang, suasana, dan arah perhatian penonton terhadap karya.
Melalui pemaparan kedua praktisi, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa kemampuan menggambar digital perlu dibangun secara utuh, mulai dari keterampilan teknis, kepekaan visual, kemampuan membaca brief, kesiapan menerima revisi, hingga kesadaran terhadap realitas kerja profesional. Kelas ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk meninjau kembali cara mereka menyusun portofolio, mengelola proses kreatif, dan membangun etos kerja sebagai calon kreator visual.
Kehadiran Polar Engine Studio Yogyakarta dalam perkuliahan ini memperkuat hubungan antara kampus dan industri kreatif. Polar Engine dikenal sebagai studio yang bergerak dalam bidang ilustrasi 2D dan concept art untuk kebutuhan aset visual, termasuk cover art, video game, permainan kartu, collectibles, dan berbagai kebutuhan industri hiburan visual. Kehadiran praktisi dari studio tersebut memberikan perspektif yang relevan bagi mahasiswa Animasi ISI Yogyakarta, terutama dalam memahami standar visual dan proses kerja industri global.
Melalui kegiatan ini, Program Studi D-4 Animasi ISI Yogyakarta terus mendorong pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan industri. Kegiatan praktisi mengajar diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa, meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja kreatif, serta memperkuat kualitas pembelajaran Gambar Digital sebagai fondasi penting dalam produksi animasi, gim, ilustrasi, dan media kreatif digital.Dengan terselenggaranya perkuliahan bersama Stormy Elia Fanggidae dan Alifka Hammam Nugroho dari Polar Engine Studio Yogyakarta, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa karya visual profesional tidak hanya dibentuk oleh bakat, tetapi juga oleh konsistensi, komunikasi, pengelolaan proses, keberanian menerima evaluasi, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan kreatif. (Humas Prodi Animasi)








